PERANTAU PASTI PULANG

 

Dalam kehidupan di dunia ketika pulang pasti girang. Di sekolah ketika menunggu jam pelajaran yang tidak disukai, ketika bel berbunyi girang bukan main. Ketika merantau ke suatu kota kemudian tiba saatnya pulang ke daerah asal timbul rasa senang.


Dalam konteks kehidupan yang akan datang, sejatinya kita ini adalah para perantau di dunia, kampung halaman kita adalah di akhirat, cepat atau lambat, suka atau tidak kita akan pulang ke tempat asal kita. Proses kepulangan kita diawali dengan kematian, karena sesuatu yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Maka mestinya kematian bukanlah sesuatu hal yang harus ditakuti. Kematian adalah stasiun awal menuju pemberangkatan ke alam barzah.


Alasan pada umumnya mengapa orang takut pada kematian adalah terlalu cinta dunia dan merasa bekal untuk perjalanan kehidupan di akhirat belum cukup. Dalam konteks keduniawian apabila kita mau pergi liburan ke Surabaya sudah pasti  kita akan mengalokasikan dana membagi post-post kebutuhan disana. Ketika bekal cukup maka di Surabaya pasti bahagia karena semua kebutuhan tercukupi dan tidak menemukan masalah berarti. Akan tetapi ketika bekal tidak mencukupi sudah pasti kita akan nelangsa, namun senelangsa - nelangsanya hidup di dunia kita masih punya teman, sodara dan banyak orang yang dapat memberikan kita pertolongan untuk membantu kesulitan kita.


Tetapi di kehidupan akhirat ketika bekal kita tidak mencukupi, kepada siapa kita akan meminta pertolongan? Kesempatan kita untuk berbuat amal baik dan beribadah sudah berakhir ketika roh berpisah dengan jasad. Bekal kita di akhirat bukan uang, bukan makanan tapi amal ibadah yang kita perbuat semasa hidup di dunia.


Kehidupan di dunia ini adalah misteri, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi satu jam yang akan datang, satu hari yang akan datang, satu minggu yang akan datang, satu bulan yang akan datang bahkan satu tahun yang akan datang. 


Kesempatan yang kita miliki adalah detik ini, menit ini, jam ini, hari ini untuk melakukan yang terbaik baik dari segi aktivitas keduniawian yang dapat berpengaruh untuk masa depan yang lebih baik maupun ibadah untuk bekal yang akan datang di kehidupan akhirat.


Hidup bukan sekedar hidup, jadi baik itu bagus, tapi lebih bagus jadi orang bermanfaat, jadi orang yang berguna bagi banyak orang. Kalaulah hidup hanya untuk diri sendiri, untuk sanak family kebahagiaan rasanya belum amat paripurna. Lihatlah di sekitar dan berbaurlah dengan mereka bantu mereka yang membutuhkan.


Pada akhirnya setelah kematian akan ada amal yang akan tetap mengalir kepada kita, diantaranya sedekah jariyah, misalnya kita semasa hidup di dunia kita membangun masjid, mewakafkan tanah untuk kepentingan masyarakat dan hal lainnya yang bisa bermanfaat.


Kedua ilmu yang bermanfaat, ketika kita bisa ilmu fikih, ilmu hadist, ilmu tentang Al-Qur'an ataupun ilmu yang berhubungan dengan Islam maupun ilmu pengetahuan tentang keduniawian kita sebarkan kepada orang lain dan orang tersebut mengamalkannya maka pahalanya juga mengalir kepada kita.


Ketiga doa anak Soleh, ketika kita meninggal nanti anak Soleh akan senantiasa mendoakan kita untuk kebaikan kita di alam akhirat. Itulah pentingnya memberikan dasar agama yang kuat kepada anak kita, ketika anak sudah menyerap ilmu agama maka ilmu pengetahuan keduniawian akan mudah ia cerna. Lebih dari itu agama adalah benteng bagi budi pekerti anak tersebut, dalam Islam segala kelembutan dan teladan sudah diajarkan oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW, maka tugas kita adalah mendidik anak agar bisa menjadi generasi yang soleh dan berbudi pekerti baik.


Boleh saja kita berambisi dengan pencapaian di dunia, akan tetapi mari kita imbangi dengan amal ibadah dan kebaikan agar ketika ajal telah tiba kita sudah memiliki bekal amal baik yang cukup, sehingga ketika di akhirat bukan siksaan dan hukuman yang kita dapatkan melainkan kebahagiaan yang dijanjikan Allah SWT.


Jalani dunia dengan ikhtiar yang cukup untuk menggapai sesuatu, setelah itu imbangi dengan do'a, selanjutnya akhiri dengan tawakal atau berserah diri kepada Allah. Ketika kita sebagai manusia telah menjalankan ketiganya segala keputusan adalah hak prerogatif Allah, boleh jadi keinginan kita dikabulkan maka kita harus bersyukur, namun apabila keinginan belum terkabul hal yang dapat kita lakukan adalah bersabar dan jangan putus asa. 


Sering kali apa yang menurut kita baik, ternyata menurut Allah tidak baik, bisa jadi Allah sudah menyiapkan rencana yang lebih baik untuk kita dari yang kita rencanakan sebelumnya. Jadilah manusia yang selalu berprasangka baik terhadap Allah. 


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]


Imbar Abdullah

TNG 12 Februari 2021






Komentar

Postingan Populer